Tradisi Nopeng di Entikong: Parade Hantu Meriahkan Hari Raya dan Pererat Silaturahmi

Entikong, Startimenews.com – Sanggau – Ada yang unik dalam perayaan Hari Raya di Desa Entikong, Kecamatan Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Masyarakat setempat kembali menggelar tradisi tahunan “Nopeng” pada Minggu, 8 Juni 2025, sebuah parade budaya yang melibatkan puluhan pemuda berkostum hantu keliling kampung untuk menghibur warga.

Tradisi yang berlangsung sejak pukul 14.00 hingga 17.00 WIB ini menjadi agenda rutin warga Entikong setiap Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Diselenggarakan oleh Ikatan Pemuda Perbatasan Entikong (IP2E), acara ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial-budaya masyarakat perbatasan.

Sebanyak 26 orang pemuda mengenakan kostum menyeramkan, berkeliling dengan berjalan kaki menyusuri permukiman warga. Meski berpenampilan mengerikan, para “nopeng” sebutan bagi pemeran hantu dalam tradisi ini disambut meriah oleh warga yang sudah menantikan kehadiran mereka.

Dalam wawancara eksklusif, Muhammad Nasri, Ketua IP2E, menjelaskan:

“Ini bukan tentang menakut-nakuti. Nopeng adalah hiburan rakyat yang sudah diwariskan sejak dulu, tujuannya untuk meramaikan hari raya dan mempererat hubungan antarwarga,”

Selama parade berlangsung, warga dengan sukarela memberikan sumbangan berupa uang, air kaleng, air soda, dan makanan ringan. Semua hasil sumbangan dikumpulkan dan digunakan untuk membiayai kegiatan hiburan rakyat, seperti lomba tradisional yang dilaksanakan keesokan harinya.

Kegiatan ini tak hanya menarik perhatian anak-anak, tetapi juga menjadi momentum yang memperkuat nilai gotong royong dan kebersamaan warga. Suasana desa tampak hidup, penuh canda tawa, dan menjadi ajang temu antarwarga yang selama ini sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Meski berlangsung sederhana, tradisi Nopeng mengandung makna sosial yang dalam. Ia menjadi bentuk nyata pelestarian budaya lokal di tengah modernisasi, sekaligus simbol bahwa masyarakat perbatasan tidak kehilangan identitas dan semangat kebersamaan.

Nasri menambahkan:

“Kami ingin generasi muda terus melestarikan Nopeng, karena ini bukan sekadar hiburan, tapi juga warisan yang memperkuat jati diri kami sebagai masyarakat perbatasan”.

Tradisi Nopeng berakhir tepat pukul 17.00 WIB dengan suasana penuh keceriaan. Bagi masyarakat Entikong, perayaan hari raya tak lengkap tanpa kehadiran parade hantu yang menyatukan rasa, tradisi, dan tawa dalam satu jalan.

Red.Abang Hafiz Ramadhan


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *